Rabu, 09 Desember 2009

PsikoLogi

Kategori Organisasi Industri
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 11 Agustus 2009


Pentingnya Pertanyaan Diri

Semua orang sudah tahu, tujuan ke kantor adalah untuk bekerja (to work). Tapi dalam prakteknya, belum tentu tujuan itu yang benar-benar kita realisasikan secara optimal. Bisa jadi, dari 100% jam kerja kita, hanya sedikit yang kita realisasikan untuk benar-benar bekerja, dan sisanya untuk bertengkar (to fight). Memang, kita seringkali tidak bisa menghindari hal-hal yang bersifat politis di kantor yang memicu perselisihan dan pertengkaran.



Itulah kenapa sampai muncul istilah office politic. Menurut Andrew Durbin (Winning Office Politic, 1990), office politic adalah cara halus / informal untuk mencapai kekuasaan atau keuntungan (pribadi / kelompok). Melihat hasil riset Roffey Park, terhadap sejumlah manajer, yang meskipun itu diadakan di luar negeri, office politic menduduki ranking atas dari penyebab utama konflik.



Oleh karenanya, pertanyaan seputar diri (tentang diri, terhadap diri, saat sendirian), seperti apakah kita ke kantor, apakah untuk bekerja atau untuk bertengkar, menjadi penting sebagai sebuah cermin. Walau kita sudah tahu jawabannya, tetapi yang seringkali kita lupakan adalah memunculkannya. Kenapa ini menjadi penting? Kalau melihat kajian psikologi, ternyata mempertanyakan diri sendiri berfungsi menyuburkan stamina spiritual.



Yang termasuk stamina spiritual di sini adalah pencerahan dan vitalitas. Dengan menyadari bahwa tujuan kita ke kantor untuk bekerja, berkarya, berkreasi, dan berkontribusi, maka kita akan terbentengi dari keterhanyutan dalam pertengkaran. Dengan bertanya apa makna hidup kita, akan membuat kita mencari-cari makna yang lebih esensial di dalam pekerjaan, kesulitan, hambatan, atau pun tantangan yang harus atau pun sedang dihadapi. Proses tersebut akan memfasilitasi munculnya kesadaran.



Jika melihat nasehat Tao, ternyata kesadaran itulah yang menjadi sumber kekuatan jiwa. Kesadaran di sini bisa kita maknai sebagai keterhubungan (connectedness) antara kita dengan apa yang kita perjuangkan / usahakan / kerjakan. Keterhubungan ini, tidak hanya berlaku untuk pekerjaan, tapi juga dengan orang lain (pimpinan, bawahan, kolega). Sebagai ilustrasi, jika bekerja tanpa hati dan motivasi, maka hasilnya dipastikan pas-pasan bahkan buruk. Jika berelasi dan bekerja sama tanpa rasa kebersamaan baik dalam tanggung jawab dan komitmen, maka yang ada adalah kompetisi negatif dan clique / group think.





Perenggut Kesadaran

Meski pertanyaan-pertanyaan yang menggugah kesadaran itu nampak sepele, namun seperti yang kita alami, kemunculannya tidak secara otomatis membuat kita benar-benar sadar. Kenapa? Tentu banyak sebabnya. Hanya, jika melihat berbagai rujukan, rupanya ada beberapa hal yang bisa kita sebut sebagai perenggut kesadaran mental.



Sebagian dari sekian perenggut itu adalah amarah (lengkapnya nafsu amarah) yang gagal kita kendalikan. Nafsu ini adalah dorongan batin yang mendikte kita untuk melakukan sesuatu yang ditentang oleh suara hati nurani. Pemicunya adalah egoisme kepentingan / kebenaran diri yang kita pertahankan mati-matian.



Semakin sering kita menggunakan kebenaran sendiri sebagai pemandu sikap dan perilaku, mungkin akan semakin kita sering marah. Supaya nafsu ini bisa kita tundukkan, menurut pengalaman jutaan manusia, tidak ada cara lain kecuali dengan melatih diri melihat kebenaran universal yang bisa di temukan dalam hati nurani. Jika hati nurani kalah suara, cobalah untuk melihat echo nurani dari sikap lingkungan terhadap diri kita. Sebab kita suka memutlakkan kebenaran diri dan melupakan bahwa kita manusia yang punya keterbatasan.



Ada sebab lain yang diungkap Alber Bandura (How people do bad thing: 1991). Menurutnya, orang bisa melakukan hal-hal yang merugikan dirinya dan orang lain karena sistem self-regulatory di dalam dirinya sedang off sehingga gagal membedakan. Yang membuatnya off adalah usaha kita untuk merasionalisasi tindakan supaya mendapatkan pembenar yang rasional, bukan mengoreksi / memperbaiki. Misalnya kita berkesimpulan, fighting yang kita lakukan itu cukup beralasan dengan sekian pembenar yang sudah kita siapkan.



Ada lagi yang oleh nasehatnya Tao disebut sebagai penggelap batin, yaitu insecurity (rasa tidak aman) dan egocentricity of selfisness (egoisme). Munculnya rasa tidak aman dalam jiwa disebabkan karena kita tidak memiliki pondasi nilai-nilai yang membuat jiwa kita aman. Jika rasa itu terus menggunung, maka yang muncul adalah usaha-usaha untuk mementingkan diri sendiri atau penonjolan diri secara berlebihan. Akibatnya, kita gampang menyerang orang karena merasa ada yang mengancam kepentingan diri atau mudah melawan untuk memberi makan rasa tidak aman yang lapar.



Bentuknya antara lain: kita memaksakan proses atau keadaan agar harus sesuai dengan keinginan egois kita, memaksa diri untuk harus terkesan sebagai orang yang cerdas dengan mematahkan argumen orang lain karena kita takut dibilang bodoh, kerakusan, mengatur / menguasai orang lain secara tidak sehat, melawan hanya untuk melawan dan lain-lain





Hanya Surga yang Ideal

Dengan memunculkan beberapa pertanyaan diri, tak berarti kita harus menjadi orang yang perfeksionis secara tidak rasional. Misalnya kita menolak / mengingkari secara batin berbagai bentuk konflik, dan pertengkaran. Ini tentu tidak rasional. Kenapa? Yang namanya di dunia itu pasti ada hal-hal yang tidak kita harapkan. Hanya di surga yang memastikan kenikmatan sempurna.



Berbagai pertanyaan diri yang spiritual itu antara lain berguna agar kita cepat kembali pada track yang semestinya. Bayangkan jika kita lengah dalam waktu yang cukup lama? Bukan tak mungkin hidup kita menjadi tak efektif dan tak efisien. Dalam agama, pertanyaan diri itu termasuk apa yang disebut penasehat di dalam diri. Orang yang oleh Tuhan dikehendaki baik akan memiliki penasehat di dalam diri yang mampu mencegah dan menyuruh (kebaikan, kemaslahatan, dan kebenaran).



Selain berguna mengembalikan pada track, pertanyaan diri itu juga berguna untuk memfasilitas proses pembelajaran terhadap apa yang terjadi, sehingga membuat kita menjadi bijak atau memperoleh banyak pencerahan. Bijaknya kita itu bukan karena berhasil menolak apa yang terjadi atau menyikapinya secara asal-asalan, melainkan karena kita mencerna pelajarannya. Untuk bisa mencerna, pertanyaan diri menjadi modal penting. Pengalaman dan pengetahuan belum tentu membuat kita makin bijak jika tanpa dicerna.



Kegunaan lainnya adalah untuk memunculkan cahaya positif yang akan bekerja menginspirasi orang lain mengubah dirinya setelah melihat perubahan dalam diri kita. Dalam prakteknya, diri kita memunculkan cahaya yang bisa negatif atau positif, baik secara temporer atau konsisten, tergantung bagaimana mengolah batin. Orang yang belajar beladiri untuk arogansi akan memunculkan cahaya yang menginspirasi dunia di sekitarnya untuk berkelahi. Semakin keras nafsu kita untuk penonjolan diri (power show), akan semakin banyak orang serupa yang kita temui.



Logika spiritual ini dapat kita gunakan untuk memahamkan diri bahwa dengan semakin banyak pertengkaran yang kita ladeni atau yang kita menangkan, tak berarti akan membuat posisi kita makin aman dan tenteram. Atau tidak berarti akan semakin sedikit jumlah pertengkaran yang kita hadapi. Justru akan semakin sering dan akan semakin banyak orang yang menawarkan pertengkaran.



Bila kita termasuk orang yang dituakan / dianggap / diangkat sebagai pemimpin, logika spiritual ini menjadi sangat penting. Kenapa? Kata Marshall dan Zohar, kita sulit mengubah orang lain yang rakus supaya tidak rakus kalau kita sendiri rakus. Atau intinya, kita tidak bisa menginspirasi orang lain untuk mengubah dirinya ke arah yang lebih baik, jika level spiritual kita masih berada di kelas yang sama, karena cahayanya sama.



Logika ini bisa kita terapkan dari mulai memimpin divisi, keluarga, organisasi, sampai ke negera. Bedanya, semakin luas wilayahnya, semakin butuh penggalian yang lebih dalam supaya cahayanya makin terang. Meski begitu, prinsip dasarnya tetaplah tak berubah. Sulit membayangkan rakyat peduli pada negara kalau para pemimpinnya hanya sedikit yang peduli sama bangsanya, karena cahayanya sama.



Meski ilmu manajemen sudah banyak menawarkan tool untuk mengubah orang lain, dari mulai pakasaan, pengkondisian, atau pemberian insentif, tetapi mengubah orang lain yang nyaris tak ada perjuangannya dan persoalannya adalah mengubah dengan memberi cahaya. Cuma, cahaya itu biasanya tak mau diberi indikator mate-matis dan tak mau mendikte langsung.



"tetapi mengubah orang lain yang nyaris tak ada perjuangannya dan persoalannya adalah mengubah dengan memberi cahaya."





Proses Pembelajaran

Kembali pada pokok bahasan mengenai bagaimana supaya kita terhindar dari office politics yang merugikan atau kalau bisa malah dapat memfasilitas dinamika di kantor sebagai proses menuju kematangan spiritual, maka tentu ini butuh proses pembelajaran. Tak mungkin semuanya bisa diraih langsung atau membiarkan. Beberapa proses pembelajaran yang dibutuhkan itu antara lain:



Pertama, memunculkan kesadaran bahwa kita punya pilihan. Situasi atau orang yang menawarkan pertikaian tak ada yang mengharuskan dibalas secara pertikaian. Reaksi itu pilihan kita. Sayangnya, terkadang kita tidak menyadari bahwa kita memiliki pilihan untuk YA dan TIDAK. Kita terhanyut dalam keharusan bereaksi. Karena itu, orang yang sedang berpuasa diharuskan memilih kata TIDAK pada tawaran pertikaian sebab salah satu inti puasa adalah belajar mengontrol pilihan.



Kedua, memaksa diri untuk belajar menentukan keputusan yang jelas pada hal-hal yang membutuhkannya. Terkadang kita tak mampu mengambil keputusan yang jelas karena merasa tidak kuasa, "The I Can Not" (misalnya, saya tak tahan, memang sudah begini watak saya, dst) atau karena pilihan dan alasan kita tidak tegas, "The Yes-but" (saya tahu pertengkaran ini merugikan, tapi...., dan berbagai "tapi" yang lain).



Mestinya, untuk pembelajaran, kita perlu memaksa diri harus tegas dengan mengurangi sejumlah persyaratan dan menambah alasan. Misalnya, kita tidak mau meladeni pertengkaran, karena kita punya pilihan yang sadar untuk itu, meski kita punya kesempatan untuk membalasnya, dengan alasan yang material (fisik atau keuntungan pribadi) dan spiritual (keimanan, dst).



Ketiga, memaksa diri membedakan mana yang perlu didiamkan dan mana yang tidak bisa. Untuk godaan orang lain yang sifatnya "menguji", entah menguji keimanan, keteguhan atau apa saja, yang lebih baik adalah mendiamkan. Misalnya kita sadang giat-giatnya merealisasikan visi atau tujuan, tapi bisik-bisik orang sekitar tidak mengenakkan. Kalau kita memikirkan yang demikian, maka energi dan fokus kita menjadi tidak kuat atau bocor.



Tapi, untuk hal-hal yang sudah sampai pada kezaliman perilaku, maka kelantangan kita terkadang dibutuhkan. Orang yang mendiamkan KDRT tak berarti baik, meski tetap harus berpikir memperjuangka keutuhan. Kelantangan pun perlu dibedakan antara mana yang menginspirasi orang lain memperbaiki perlakuannya pada kita dan mana yang tidak. Umumnya, kelantangan yang efektif adalah kelantangan yang jarang, jelas, dan pendek, tidak merembet kemana-mana.





Bagaimana Kalau Tidak Mempan?

Banyak yang bertanya-tanya, saya sudah berusaha baik, tapi si dia-nya itu yang tetap kurang ajar. Apa yang harus saya lakukan? Dalam kondisi begini, kita harus lari berpegang pada prinsip lain: sejauh kita memperbaiki diri, walaupun dia tidak berubah, maka dunia ini akan mendatangkan penggantinya. Sejauh kita meningkatkan kualitas spiritual, maka cahaya kita akan nyambung dengan cahaya orang lain, entah dimana, yang juga sedangkan meningkatkan spiritualnya. Inilah cara yang "sopan" dari Tuhan. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar